Menentukan Storage Tidak Selalu Pada Besarnya Hard Disk Saja - mboisker

Breaking

Teknologi | Informasi | Kesehatan | Terkini

14/08/20

Menentukan Storage Tidak Selalu Pada Besarnya Hard Disk Saja

Seperti kita ketahui bahwa storage itu terdiri dari DAS, NAS dan SAN. Storage dalam prakteknya terdiri dari beberapa hard disk yang dijadikan dalam satu kesatuan untuk membentuk suatu kapasitas yang lebih besar dari sebuah hard disk saja. Karena hingga saat ini setiap keping hard disk mempunyai kapasitas terbesar 20 TB. Oleh karena itu untuk mencapai kapasitas lebih dari 20 TB, maka sebuah storage membutuhkan beberapa hard disk untuk dijadikan sebuah kesatuan agar membentuk kapasitas yang lebih besar.

Untuk menyatukan beberapa hard disk dalam sebuah kesatuan kapasitas yang lebih besar dikenal dengan sebutan RAID. Sedangkan RAID merupakan kependekan dari Redundant Array of Independent Disks. Jika diartikan dalam bahasa yang lebih sederhana, RAID adalah suatu teknologi dalam penyimpanan data yang digunakan untuk memberikan toleransi kesalahan pada media penyimpanan (hard disk) dengan cara melakukan redundansi data yang dibagi atau disebar ke dalam beberapa hard disk yang lain.

Secara umum RAID yang sering digunakan dalam sebuah storage adalah :

  1. RAID 0, merupakan kumpulan hard disk yang dijadikan satu kapasitas yang lebih besar tanpa adanya redundansi data atau dikenal dengan sebutan striping. Kelebihan RAID 0 adalah karena tanpa adanya redundansi data, maka RAID 0 ini menawarkan performa yang lebih cepat. Performa dari RAID 0 ini sesuai dengan jumlah disk yang dikonfigurasi, semakin banyak disk maka performanya juga semakin cepat. Sedangkan kekurangan RAID 0 adalah meskipun memiliki performa yang cepat, namun karena tanpa adanya redundansi data maka sangat riskan sekali jika terjadi kerusakan hard disk yang menyebabkan kehilangan data di seluruh hard disk yang dikonfigurasi sebagai RAID 0.
  2. RAID 1, merupakan kumpulan hard disk yang dijadikan satu kapasitas dengan menerapkan redundansi/duplikasi data 1:1 (satu banding satu) atau dikenal dengan sebutan mirror. Jadi dengan menggunakan RAID 1 ini maka jumlah disk adalah genap. Kelebihan RAID 1 ini adalah menawarkan perlindungan terhadap data yang sangat baik. Namun kekurangan RAID 1 adalah membutuhkan hard disk yang lebih banyak, yaitu 2x lebih banyak karena sifat perlindungan datanya yang mirror atau 1:1. Sedangkan performanya RAID 1 ini cenderung lebih buruk karena melakukan duplikasi data secara mirror.
  3. RAID 5, merupakan kumpulan hard disk yang dijadikan satu kapasitas yang lebih besar dengan menerapkan redundansi data berupa paritas yang berjumlah 1. Setiap data akan memiliki 1 paritas yang ditaruh di disk yang berbeda. Jadi misal ada 4 disk yang dikonfigurasi sebagai RAID 5, kemudian ketika ada data yang otomatis akan dibagi menjadi 3 data dan 1 paritas yang akan disebar ke 4 disk tadi. Kelebihan RAID 5 adalah adanya perlindungan data yang baik melalui sistem paritas yang berjumlah 1 dan karena menggunakan sistem paritas jadi tidak membutuhkan hard disk yang banyak seperti metode mirror atau RAID 1. Sedangkan kekurangan RAID 5 adalah karena keberadaan paritas yang berjumlah 1, maka jumlah hard disk yang rusak hanya bisa ditoleransi maksimal 1 hard disk saja. Jadi ketika hard disk yang rusak lebih dari 1 secara bersamaan, maka data yang tersimpan di semua hard disk akan rusak.
  4. RAID 6, merupakan kumpulan hard disk yang dijadikan satu kapasitas yang lebih besar dengan menerapkan redundansi data berupa paritas yang berjumlah 2. Setiap data akan memiliki 1 paritas yang ditaruh di disk yang berbeda. Jadi misal ada 5 disk yang dikonfigurasi sebagai RAID 5, kemudian ketika ada data yang otomatis akan dibagi menjadi 3 data dan 2 paritas yang akan disebar ke 5 disk tadi. Kelebihan RAID 6 adalah adanya perlindungan data yang lebih baik melalui sistem paritas yang berjumlah 2 dan karena menggunakan sistem paritas jadi tidak membutuhkan hard disk yang banyak seperti metode mirror atau RAID 1. Sedangkan kekurangan RAID 6 adalah karena keberadaan paritas yang berjumlah 2, maka jumlah hard disk yang rusak hanya bisa ditoleransi maksimal 2 hard disk saja. Jadi ketika hard disk yang rusak lebih dari 2 secara bersamaan, maka data yang tersimpan di semua hard disk akan rusak.
  5. RAID 10, sebenarnya metode RAID 10 ini adalah gabungan antara RAID 1 dan RAID 0 untuk memaksimalkan redundansi data mirror dari RAID 1 dan performa cepat yang dianut oleh RAID 0. Cara kerjanya adalah dengan melakukan replikasi data secara mirror pada tiap disk seperti RAID 1, kemudian 2 disk yang sudah mirror tersebut dilakukan proses striping seperti RAID 0 untuk memperoleh performa yang lebih baik. Jadi kebutuhan disk untuk RAID 10 adalah berjumlah genap yang dimulai dari 4 disk. Kelebihan RAID 10 adalah perlindungan data dan performa yang sangat baik. Sedangkan kekurangan dari RAID 10 adalah jumlah disk harus genap dan minimal adalah 4 disk.
Secara umum ketika akan membeli sebuah storage dengan pertimbangan akan menggunakan jenis RAID yang mana, maka bisa diketahui membutuhkan berapa hard disk yang sesuai. Sebagai saran jika membutuhkan perlindungan data yang lebih baik, sebaiknya menggunakan RAID 10 saja. Tetapi jika dana terbatas, maka RAID 5 bisa menjadi pilihan.

Sebenarnya selain pertimbangan RAID yang akan digunakan, ada beberapa pertimbangan lain dalam menentukan storage, yaitu IOPS. IOPS adalah satuan yang biasa digunakan dalam perhitungan input dan output per detik yang mencerminkan performa kecepatan suatu data yang melintas tiap detik. Di sebuah hard disk juga ada kemampuan maksimal yang bisa ditangani dalam transfer data dalam satuan IOPS.

Secara sederhana setiap jenis hard disk mempunyai IOPS yang berbeda, semakin tinggi IOPS yang dipunya oleh hard disk maka performanya juga lebih baik. Kira-kira gambaran IOPS di setiap jenis hard disk adalah sebagai berikut :
Jenis Hard Disk IOPS
SSD        5000
SATA 7200 RPM 75
SATA 10K RPM 125
SAS II 10K RPM 140
SAS II 15K RPM 200

Begitupula ketika beberapa hard disk dilakukan konfigurasi berupa RAID maka perhitungan IOPSnya pun juga akan berbeda, karena ada perhitungan pinalti untuk setiap RAID yang digunakan. Dan biasanya dalam sebuah sistem storage juga dikenal dengan berapa persen baca dan berapa persen tulis (read % dan write %), karena IOPS untuk baca dan tulis berbeda. Namun sekarang tidak perlu pusing bagaimana menghitung itu semua, karena sudah banyak yang membuat kalkulator perhitungan RAID dan IOPS, silahkan cari di Google. Kalo saya menggunakan kalkulator raid spindle yang lupa buatan siapa, tapi sangat membantu sekali dalam menghitung kebutuhan storage.

Dengan pertimbangan hal tersebut di atas, maka bisa disimpulkan secara sederhana dalam menentukan kapasitas storage adalah sebagai berikut :
  1. Kebutuhan kapasitas data dan perkiraan pertumbuhan data kedepan adalah hal utama
  2. Kebutuhan IOPS sekarang dan perkiraan pertumbuhan IOPS kedepan dari seluruh sistem yang terkoneksi ke storage agar performa tetap terjaga
  3. Setelah mengetahui kebutuhan kapasitas disk dan IOPS, maka harus disesuaikan dengan kapasitas kontroler storage yang akan dibeli. Karena di pasaran banyak sekali kelas kontroler yang dibagi berdasarkan kapasitas maksimum hard disk dan IOPS yang disupport.
  4. Yang terakhir adalah menghitung jenis hard disk, kapasitas hard disk dan jumlah hard disk berdasarkan jenis RAID dan kebutuhan IOPS yang akan digunakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar